Langsung ke konten utama

Mendewasa atau sekedar menua

 


Sejatinya, tak ada yang perlu dirayakan dengan bertambahnya usia. Apalagi semakin dewasa, rasanya bertambah usia hanya seperti hari-hari biasa.

Tapi, mari kita ambil hikmahnya. Jika kecil ulang tahun menjadi momen bersenang, saat besar nampaknya ini jadi momen merenung

salah satunya, apakah kita benar-benar mendewasa atau sekedar menua?

Sulit juga menjawabnya, sebab tidak benar-benar ada barometer kedewasaan. la bukan seperti heart rate atau pace yang bisa dengan mudah dilihat pada smartwatch. la memang butuh direnungi..

Bagi saya, salah satu tanda dewasa adalah menghargai mereka yang peduli dan peduli hanya pada sesuatu yang berharga.

Menghargai mereka yang peduli, sebuah bentuk kesadaran sekaligus pengingat, bahwa kita tidak berjuang sendiri. Ada alasan mengapa kita berjuang, berlelah, dan berkorban.

Sebagaimana kehadiran kitapun menjadi alasan bagi mereka. Alhamdulillah, kehangatan ini Allah hadirkan melalui keluarga

Peduli pada sesuatu yang berharga, ini adalah kemampuan mengatur prioritas. Tenaga dan fokus kita yang terbatas mendorong kita untuk mengedepankan yang penting dan mendesak. Inilah alasan mengapa dewasa itu kerap kali

'kesepian', sebab bisa jadi masing-masing telah memiliki prioritas yang berbeda.

jadi, mari kita tanyakan lagi, kita benar-benar mendewasa atau sekedar menua?

(M atiatul muqtadir)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear my little self

  I know, throughout your life, you've rarely asked for anything for yourself. But there's one thing you've always wished for: to working and study abroad , with your own effort, because you had no privilege, nothing handed to you. I know how happy you were when you pass the ielts test . But… I’m sorry i didn’t win the war. i’m sorry i couldn’t push myself harder. Still, this is our biggest achievement, isn't it?  We have ielts certificate , we already have a passport and and the most important thing is that we have tried. It such a dream, we made it so far. So let's try again. And if we fail again... let's laugh, then try, try, and try... until our very last breath.

UNTUK JALAN PANJANG (2026 Dan Setelahnya)

  📍Pantai Bosowa    Ini sudah 2026. Beberapa tahun terakhir, waktu terasa bergerak begitu cepat. Tahun 2030 sekarang lebih dekat dari tahun 2020. And, can you believe that 2016 was a decade ago? Bukan hanya tahun yang bertambah—usia kita pun ikut bertambah. Aku sendiri kini berusia 24 tahun; kurang lebih 11 bulan lagi akan genap seperempat abad. Saat remaja, aku pernah membayangkan diriku di usia 25 tahun: sudah menikah(haha), menjalani rutinitas yang padat, dan hidup jauh dari rumah—seperti yang sering kulihat di televisi. Namun nyatanya, aku masih di sini. Menjadi warga biasa, hidup dengan tempo lambat, dengan mimpi-mimpi yang masih jauh dari kata selesai. Kehidupan yang dulu kubayangkan mungkin memang bukan untukku—atau mungkin belum.      Akhir-akhir ini aku sering bertanya pada diriku sendiri: apakah orang-orang yang kutemui setiap hari menjalani hidup seperti yang benar-benar mereka inginkan sejak dulu? Penjual tahu keliling, petani, guru, pejabat, d...

Merayakan Daya Juang

Tulisan Tahunan Tahun 2025, bagi saya, adalah tentang perjuangan. Mungkin saya tidak perlu menceritakan secara detail apa saja yang saya lakukan sepanjang tahun ini, karena sebagian besar sudah saya tuangkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Tulisan ini akan berfokus pada pelajaran utama yang saya dapatkan selama menjalani 2025—pelajaran yang ingin saya bawa sebagai bekal untuk bertarung di 2026. ⸻ #1 Tekad yang Kuat Tidak Akan Merobohkan Tembok Takdir Setelah lulus kuliah, salah satu mimpi terbesar saya adalah bekerja di luar negeri. Saya mulai belajar IELTS, membuat paspor, dan menyiapkan berbagai persyaratan yang sangat menguras tenaga, waktu, dan materi. Ada banyak hal yang saya korbankan dalam proses itu. Namun, apakah semua pengorbanan tersebut membuahkan hasil di tahun ini? Ternyata tidak. Dengan rasa kalah, saya menarik napas panjang, mengelus dada, lalu pulang dengan renungan yang berat. Di titik ini saya belajar bahwa perjuangan hidup tidak selalu berakhir deng...