Tulisan Tahunan
Tahun 2025, bagi saya, adalah tentang perjuangan.
Mungkin saya tidak perlu menceritakan secara detail apa saja yang saya lakukan sepanjang tahun ini, karena sebagian besar sudah saya tuangkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Tulisan ini akan berfokus pada pelajaran utama yang saya dapatkan selama menjalani 2025—pelajaran yang ingin saya bawa sebagai bekal untuk bertarung di 2026.
⸻
#1 Tekad yang Kuat Tidak Akan Merobohkan Tembok Takdir
Setelah lulus kuliah, salah satu mimpi terbesar saya adalah bekerja di luar negeri. Saya mulai belajar IELTS, membuat paspor, dan menyiapkan berbagai persyaratan yang sangat menguras tenaga, waktu, dan materi. Ada banyak hal yang saya korbankan dalam proses itu.
Namun, apakah semua pengorbanan tersebut membuahkan hasil di tahun ini?
Ternyata tidak.
Dengan rasa kalah, saya menarik napas panjang, mengelus dada, lalu pulang dengan renungan yang berat. Di titik ini saya belajar bahwa perjuangan hidup tidak selalu berakhir dengan hasil yang kita inginkan. Langkah sudah diayunkan, doa sudah dipanjatkan, tetapi takdir berkata lain. Saya belum mendapatkan kuota tahun ini.
Di sini saya diajarkan untuk merenung: sekeras apa pun manusia berjuang, ada batas yang tidak bisa dilawan. Kerja keras manusia tidak akan pernah menaklukkan kehendak Sang Pencipta.
Tahun ini pun ditutup bukan dengan kebanggaan diri, melainkan dengan kerendahan hati.
⸻
#2 Dunia Terus Memberi Pelajaran, Maka Jangan Berhenti Menjadi Pembelajar
Tahun 2025 juga menjadi tahun di mana saya kembali banyak belajar hal baru. Setelah lulus kuliah dan menjadi mahasiswa berprestasi, sempat muncul perasaan seolah hidup mulai “terbang”.
Namun, menjelang akhir tahun, saya kembali dijatuhkan. Setelah diangkat, lalu dijatuhkan lagi. Melihat pola kehidupan seperti ini, saya sadar bahwa siklus tersebut tidak akan berhenti—bahkan hingga kita masuk ke liang lahat.
Kalimat “jangan berhenti belajar sampai masuk ke liang lahat” bukan sekadar anjuran, melainkan peringatan. Dunia tidak akan berhenti demi kita. Bahkan, dunia sering kali lebih kejam daripada cerita fiksi. Cerita fiksi harus masuk akal, sementara dunia kerap berjalan tanpa peduli logika manusia.
Pelajaran terbesar yang saya ambil dari dunia yang seperti ini adalah tentang sabar, menerima, dan membuka diri untuk terus belajar. Tentang mencari hikmah dari setiap naik-turun kehidupan.
⸻
Penutup
Garis besar tulisan ini, sebagaimana tercermin dalam judulnya, adalah tentang merayakan daya juang dalam proses dan Penerimaan.
Berjuang tidak selalu berarti sampai ke tujuan. Namun, di dalam proses itu, selalu ada pelajaran yang dapat kita petik, entah pelajaran yang terasa manis ataupun yang teramat pahit. Dan penerimaan—bahwa apa pun yang terjadi pada kita adalah sebaik-baik takdir yang telah dituliskan oleh Sang Maha Baik.
Sekian cerita tentang 2025.
Saya telah menyatakan pada diri sendiri bahwa tahun berikutnya bukanlah tahun untuk mencari kestabilan, melainkan tahun untuk nyemplung ke kolam yang penuh ombak.
2025 telah selesai. Perjuangan kita belum.

Komentar
Posting Komentar