Langsung ke konten utama

Perjumpaan sederhana

 

One of the best things about traveling is that you never know who you’ll meet.

New places always come with new stories—and sometimes, new friends too.

It’s not just about the destination,

but the unexpected kindness, laughter, and lessons along the way.


Kak Opik

Aku bertemu Kak Opik secara tidak sengaja di kereta saat perjalanan menuju Surabaya. kebetuln kursi aku dengan tasnya bersampingan jadi kami saling tukar cerita.


Di perjalanan, Kak Opik bercerita bahwa ia baru saja resign dari pekerjaannya di J&T. Keputusan itu tidak mudah. Ia lelah—bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental. Ia ingin berhenti sejenak, menata ulang hidup, dan memberi ruang untuk dirinya sendiri. Ceritanya membuatku sadar bahwa setiap orang punya fase berat yang sering kali tidak terlihat dari luar.


Aku tidak menyangka barang bawaannya seberat itu. Karena kebetulan kami satu kapal, kami akhirnya patungan memesan Grab mobil dan menginap di pelabuhan bersama. Malam itu penuh drama—menunggu kapal, kelelahan, dan kebingungan—namun terasa lebih ringan karena kami menjalaninya bersama.


Saat naik kapal, kebetulan aku memesan kamar kelas, sementara Kak Opik hanya membeli tiket ekonomi. Ia bertanya dengan ragu apakah bisa menumpang di kamar, karena tempat tidurnya tidak cukup dan hanya muat untuk barang-barangnya. Aku lalu bertanya pada teman sekamar, dan syukurlah mereka mengizinkan tanpa keberatan.


Daeng Anca

Aku bertemu Daeng Anca saat hendak masuk kamar di kapal. Dengan tato dan penampilan yang terlihat sangar, kesan pertamaku sempat keliru. Ternyata ia sangat baik dan ramah. Sepanjang perjalanan, ia sering melontarkan lelucon, membuat 30 jam di kapal terasa lebih ringan.


Aku mengira usia kami tidak berbeda jauh, ternyata selisih enam tahun. Kami banyak menghabiskan waktu mengobrol dan nongkrong bersama di kapal. Ia bercerita bahwa ini adalah kapal keempat yang ia naiki dalam satu bulan terakhir. Baru setelah turun dari kapal, aku tahu bahwa ia adalah seorang single father . Sebelum berpisah, ia memberiku banyak nasihat—tentang hidup, tanggung jawab, dan bagaimana menjadi laki-laki yang lebih dewasa.


To both of you,

may every journey ahead bring you closer to the world, to others, and to yourselves.

Wishing you safe travels, warm encounters, and memories that last a lifetime.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear my little self

  I know, throughout your life, you've rarely asked for anything for yourself. But there's one thing you've always wished for: to working and study abroad , with your own effort, because you had no privilege, nothing handed to you. I know how happy you were when you pass the ielts test . But… I’m sorry i didn’t win the war. i’m sorry i couldn’t push myself harder. Still, this is our biggest achievement, isn't it?  We have ielts certificate , we already have a passport and and the most important thing is that we have tried. It such a dream, we made it so far. So let's try again. And if we fail again... let's laugh, then try, try, and try... until our very last breath.

UNTUK JALAN PANJANG (2026 Dan Setelahnya)

  📍Pantai Bosowa    Ini sudah 2026. Beberapa tahun terakhir, waktu terasa bergerak begitu cepat. Tahun 2030 sekarang lebih dekat dari tahun 2020. And, can you believe that 2016 was a decade ago? Bukan hanya tahun yang bertambah—usia kita pun ikut bertambah. Aku sendiri kini berusia 24 tahun; kurang lebih 11 bulan lagi akan genap seperempat abad. Saat remaja, aku pernah membayangkan diriku di usia 25 tahun: sudah menikah(haha), menjalani rutinitas yang padat, dan hidup jauh dari rumah—seperti yang sering kulihat di televisi. Namun nyatanya, aku masih di sini. Menjadi warga biasa, hidup dengan tempo lambat, dengan mimpi-mimpi yang masih jauh dari kata selesai. Kehidupan yang dulu kubayangkan mungkin memang bukan untukku—atau mungkin belum.      Akhir-akhir ini aku sering bertanya pada diriku sendiri: apakah orang-orang yang kutemui setiap hari menjalani hidup seperti yang benar-benar mereka inginkan sejak dulu? Penjual tahu keliling, petani, guru, pejabat, d...

Merayakan Daya Juang

Tulisan Tahunan Tahun 2025, bagi saya, adalah tentang perjuangan. Mungkin saya tidak perlu menceritakan secara detail apa saja yang saya lakukan sepanjang tahun ini, karena sebagian besar sudah saya tuangkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Tulisan ini akan berfokus pada pelajaran utama yang saya dapatkan selama menjalani 2025—pelajaran yang ingin saya bawa sebagai bekal untuk bertarung di 2026. ⸻ #1 Tekad yang Kuat Tidak Akan Merobohkan Tembok Takdir Setelah lulus kuliah, salah satu mimpi terbesar saya adalah bekerja di luar negeri. Saya mulai belajar IELTS, membuat paspor, dan menyiapkan berbagai persyaratan yang sangat menguras tenaga, waktu, dan materi. Ada banyak hal yang saya korbankan dalam proses itu. Namun, apakah semua pengorbanan tersebut membuahkan hasil di tahun ini? Ternyata tidak. Dengan rasa kalah, saya menarik napas panjang, mengelus dada, lalu pulang dengan renungan yang berat. Di titik ini saya belajar bahwa perjuangan hidup tidak selalu berakhir deng...