Langsung ke konten utama

MEMILIH PEMIMPIN

    Kita harus menyadari bahwa kita tidak harus terlibat langsung dalam politik praktis, tapi kita tidak boleh abai dengan kondisi politik kita, mungkin kita bisa memilih untuk tidak masuk politik, tapi kita tidak bisa memilih bahwa politik itu masuk dalam kehidupan kita, pendidikan, kesehatan, termasuk aman tidaknya kita beraktivitas, semuanya terpengaruh oleh kebijakan di politik yg dikeluarkan pemimpin.


    Itulah mengapa kita harus memilih pemimpin yang baik, bukan hanya karena berpengaruh di kehidupan kita di dunia tapi juga karena pilihan kita juga akan dimintai pertanggung jawaban nanti di akhirat


ada beberapa cara yg dapat kita lakukan dalam memilih pemimpin


pertama, lihat gagasan yg dikeluarkan, apakah gagasan itu berpihak ke rakyat atau justru ke dirinya sendiri atau kelompoknya. kita juga harus melihat koherensi antara masalah yg ingin diselesaikan dengan gagasan dan program kerjanya, dan tak kalah penting apakah gagasan tersebut realistis atau tidak.


kedua, lihat rekam jejak kepemimpinan, apakah pernah memimpin atau tidak, dan jika pernah, apakah program kerja yg terlaksana dengan baik atau tidak.


     intinya harus ada riset dan proses berfikir sebelum memilih pemimpin, bahkan urusan yg remeh seperti belanja online kita rela menghabiskan waktu untuk membandingkan satu toko dengan toko lainnya, lihat gambar, baca review dan sebagainya, masa untuk memilih pemimpin, sesuatu yg berpengaruh terhadap nasib kita semua kedepannya kita tidak mau berikan sedikit effort untuk meriset tentang hal ini.


 

     jika nantinya kita sudah menetukan pilihan dan pilihan kita tidak sesuai dengan keluarga atau teman kita jangan sampai membuat kita terpecah belah, tetap hormati pilihan mereka sembari berikhtiar untuk mencerdaskannya.


(pemilu itu bukan tujuan tapi sarana)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear my little self

  I know, throughout your life, you've rarely asked for anything for yourself. But there's one thing you've always wished for: to working and study abroad , with your own effort, because you had no privilege, nothing handed to you. I know how happy you were when you pass the ielts test . But… I’m sorry i didn’t win the war. i’m sorry i couldn’t push myself harder. Still, this is our biggest achievement, isn't it?  We have ielts certificate , we already have a passport and and the most important thing is that we have tried. It such a dream, we made it so far. So let's try again. And if we fail again... let's laugh, then try, try, and try... until our very last breath.

UNTUK JALAN PANJANG (2026 Dan Setelahnya)

  📍Pantai Bosowa    Ini sudah 2026. Beberapa tahun terakhir, waktu terasa bergerak begitu cepat. Tahun 2030 sekarang lebih dekat dari tahun 2020. And, can you believe that 2016 was a decade ago? Bukan hanya tahun yang bertambah—usia kita pun ikut bertambah. Aku sendiri kini berusia 24 tahun; kurang lebih 11 bulan lagi akan genap seperempat abad. Saat remaja, aku pernah membayangkan diriku di usia 25 tahun: sudah menikah(haha), menjalani rutinitas yang padat, dan hidup jauh dari rumah—seperti yang sering kulihat di televisi. Namun nyatanya, aku masih di sini. Menjadi warga biasa, hidup dengan tempo lambat, dengan mimpi-mimpi yang masih jauh dari kata selesai. Kehidupan yang dulu kubayangkan mungkin memang bukan untukku—atau mungkin belum.      Akhir-akhir ini aku sering bertanya pada diriku sendiri: apakah orang-orang yang kutemui setiap hari menjalani hidup seperti yang benar-benar mereka inginkan sejak dulu? Penjual tahu keliling, petani, guru, pejabat, d...

Merayakan Daya Juang

Tulisan Tahunan Tahun 2025, bagi saya, adalah tentang perjuangan. Mungkin saya tidak perlu menceritakan secara detail apa saja yang saya lakukan sepanjang tahun ini, karena sebagian besar sudah saya tuangkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Tulisan ini akan berfokus pada pelajaran utama yang saya dapatkan selama menjalani 2025—pelajaran yang ingin saya bawa sebagai bekal untuk bertarung di 2026. ⸻ #1 Tekad yang Kuat Tidak Akan Merobohkan Tembok Takdir Setelah lulus kuliah, salah satu mimpi terbesar saya adalah bekerja di luar negeri. Saya mulai belajar IELTS, membuat paspor, dan menyiapkan berbagai persyaratan yang sangat menguras tenaga, waktu, dan materi. Ada banyak hal yang saya korbankan dalam proses itu. Namun, apakah semua pengorbanan tersebut membuahkan hasil di tahun ini? Ternyata tidak. Dengan rasa kalah, saya menarik napas panjang, mengelus dada, lalu pulang dengan renungan yang berat. Di titik ini saya belajar bahwa perjuangan hidup tidak selalu berakhir deng...