Langsung ke konten utama

New perspective


 Tidak bisa dipungkiri, keseruan kampanye pemilu kali ini dirasakan oleh banyak orang, termasuk saya atau  siapapum yang lagi baca ini.


Desak Anies , Slepet Imin , debat capres, tagihan videotron, influencer dan  yang menyatakan keberpihakan tanpa dibayar, WAR tiket kampanye akbar, dll.



Semuanya SERU! Jadi memori tersendiri dan saya yakin bentuk dan keseruan serupa akan terduplikasi di pemilu-pemilu berikutnya.


Jujur, buat saya yang dulu apatis sama perpolitikan Indonesia, saya nggak pernah nyangka proses pemilu bisa semenyenangkan dan sememorable ini.


Setelah semua kejadian di atas, kita mungkin punya harapan yang sama: pengin bisa ngerasain pengalaman kayak gini lagi setelah pemungutan suara.


proses pemilu yang dilalui bareng sama satu paslon ini akan jadi gambaran bagaimana Indonesia kita kedepannya, meski nggak 100% sama.


Dukungan dan kegiatan kampanye yang memanfaatkan uang semata akan melahirkan rakyat yang perhitungan di masa depan. 


Ketika mau ada satu buah keputusan, "untungnya buat saya apa?" dan "malas kalau nggak ada duitnya." akan jadi kalimat yang sering kita dengar kedepannya.


Sebaliknya, proses pemilu yang kolaboratif justru akan melahirkan rakyat yang ingin turut berperan di masa depan. 


Saat ada satu buah keputusan dan di dalamnya ada kekurangan, kita semua justru akan berpikiran "apa yang bisa saya bantu buat mengatasi kekurangan yang ada?" atau "apa yang bisa saya berikan buat negara?"


Dengan mempercayakan suara kita dan menaruh harapan pada Paslon 01, masa depan seperti tadi, insyaallah akan bisa kita rasakan. Keseruan selama masa kampanye ini juga bisa tetap kita rasakan.


Mungkin terdengar utopis, tapi jika kita bersatu, hal tersebut akan terasa sedikit realistis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear my little self

  I know, throughout your life, you've rarely asked for anything for yourself. But there's one thing you've always wished for: to working and study abroad , with your own effort, because you had no privilege, nothing handed to you. I know how happy you were when you pass the ielts test . But… I’m sorry i didn’t win the war. i’m sorry i couldn’t push myself harder. Still, this is our biggest achievement, isn't it?  We have ielts certificate , we already have a passport and and the most important thing is that we have tried. It such a dream, we made it so far. So let's try again. And if we fail again... let's laugh, then try, try, and try... until our very last breath.

UNTUK JALAN PANJANG (2026 Dan Setelahnya)

  📍Pantai Bosowa    Ini sudah 2026. Beberapa tahun terakhir, waktu terasa bergerak begitu cepat. Tahun 2030 sekarang lebih dekat dari tahun 2020. And, can you believe that 2016 was a decade ago? Bukan hanya tahun yang bertambah—usia kita pun ikut bertambah. Aku sendiri kini berusia 24 tahun; kurang lebih 11 bulan lagi akan genap seperempat abad. Saat remaja, aku pernah membayangkan diriku di usia 25 tahun: sudah menikah(haha), menjalani rutinitas yang padat, dan hidup jauh dari rumah—seperti yang sering kulihat di televisi. Namun nyatanya, aku masih di sini. Menjadi warga biasa, hidup dengan tempo lambat, dengan mimpi-mimpi yang masih jauh dari kata selesai. Kehidupan yang dulu kubayangkan mungkin memang bukan untukku—atau mungkin belum.      Akhir-akhir ini aku sering bertanya pada diriku sendiri: apakah orang-orang yang kutemui setiap hari menjalani hidup seperti yang benar-benar mereka inginkan sejak dulu? Penjual tahu keliling, petani, guru, pejabat, d...

Merayakan Daya Juang

Tulisan Tahunan Tahun 2025, bagi saya, adalah tentang perjuangan. Mungkin saya tidak perlu menceritakan secara detail apa saja yang saya lakukan sepanjang tahun ini, karena sebagian besar sudah saya tuangkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Tulisan ini akan berfokus pada pelajaran utama yang saya dapatkan selama menjalani 2025—pelajaran yang ingin saya bawa sebagai bekal untuk bertarung di 2026. ⸻ #1 Tekad yang Kuat Tidak Akan Merobohkan Tembok Takdir Setelah lulus kuliah, salah satu mimpi terbesar saya adalah bekerja di luar negeri. Saya mulai belajar IELTS, membuat paspor, dan menyiapkan berbagai persyaratan yang sangat menguras tenaga, waktu, dan materi. Ada banyak hal yang saya korbankan dalam proses itu. Namun, apakah semua pengorbanan tersebut membuahkan hasil di tahun ini? Ternyata tidak. Dengan rasa kalah, saya menarik napas panjang, mengelus dada, lalu pulang dengan renungan yang berat. Di titik ini saya belajar bahwa perjuangan hidup tidak selalu berakhir deng...