Langsung ke konten utama

30 HARI TANPA SOSIAL MEDIA


 

Bagaimana cerita ini bermula

Sekitar satu tahun yang lalu saya menonton video di youtubenya muhammad Muqtadir (fatur) tentang “apa yang media sosisal lakukan pada kita”, dalam video tersebut dia mengungakapkan banyak sekali dampak negatif dari bermain media sosial khususnya bagi kesehatan mental, dan dari situ saya baru menyadari bahwa saya sudah mengalami/terkena dampak negatif terebut, maka dari itu dengan penuh kesadaran dan dengan niat untuk berubah menjadi lebih baik saya mulai mencoba untuk sedikit demi sedikit mengurangi bermain media, cara pertama yang saya lakukan adalah dengan menutup akun instagram saya meskipun kadang kala belum sampai 1 bulan saya membuka akun lagi karena kadang ada foto bagus saya merasa ini harus di pamer hehe,dan baru pada tanggal 6 juli 2022 saya memutuskan untuk menutup akun instagram saya dan akun akun media sosial lainnya selain WA dan belum saya buka sampai sekarang

apa yang sosial media lakukan pada kita

Sosial media yang awalnya Cuma alat komunikasi jarak jauh, kini bertranformasi menjadi sebuah mesin yang akhirnya menjual perhatian kita, kita awalnya merasa sebagai costumer, kita mendowloadnya sacara garatis, upload ini itu gratis tapi ternyata kita tidak benar-benar jadi costumernya, karena mesin itu mempelajari apa yang kita, suka apa yang kita dengarkan , dia mempelajari apapaun yang kita suaka, kepribadian kita, dengan satu tugas yaitu membuat kita selama mungkin menatap layar,  membuat kita selama mungkin memainkannya. Dan tentu bukan tugasnya dengan rsiko yang terjadi di dunia nyata.

Sudah saatnya kita mempertanyakan,

Apasih yang sosial media lakukan pada kita, pada keluarga kita,  ke teman kita? Dan ke orang tua kita?

Kita sudah banyak melihat bahkan mugkin merasakan hilangnya interaksi di keluarga, lebih mudah cemas dan stress, semakin sulitnya fokus ketika bekerja dan belajar karena otak kita dipaksa untuk cepat sekali beganti fokus setiap 15 detik dengan fitur story, dan ada riset yang menunjukan bahwa rata-rata kemampuan manusia untuk bisa fokus atau rentang perhatian kita itu semakin lama semakin menurun, dari angka 12 detik di tahun 2000 menjadi hanya 8,25 detik di tahun 2015, bahkan rata2 rentang perhatian ikan itu mas melebihi rata2 rentang perhatian manusia.

Ada juga istilah social currency, dimana kita mulai menukarkan hidup kita dengan standar2 sosial , kita menukarkannya dengan like, dengan pengikut, ataupun komen, bahkan banyak sekali fenomena dimana orang-orang akhirnya merasa malu lalu menyembunyikan bahkan menghapus sesuatu yang dia unggah yang tidak mendapatkan banyak like dari para pengguna lainnya.

Kemudian ada istilah shadaw of appearance( bayangan penampilan), jadi sosial media secara langsung menghadirkan kehadapan kita, tampilan kehidupan dari para pengguna lainnya (tidak keseluruhan hidupnya, hanya sesuatu yang ingin ditampilkan)  sayanngya kita seringkali membandingkan tampilan itu dengan keadaan kita yang sebenarnya., yang akhirnya pengalaman kita dalam ber media sosial penuh dengan ras a insekyur, cemas dan sebagainya

Jadi melihat banyaknya pengaruh negatif dari media sosial, sudah saatnya kita menyadari beberapa hal, karena dengan sadarlah kita bisa selangkah lebih maju untuk mengubah pengalaman bermedia sosial kita.

 Apa yang seharusnya kita lakukan

Setelah mengetahui banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan dari media sosial kita hanya memiliki 2 pilihan untuk menjadi lebih baik yaitu :  benar-benar keluar dari sosial media seperti yang saya lakukan saat ini. ataupun tetap bermsin sosial media dengan mulai sadar bahwa kita tidak harus ikut standar sosial, tidak harus menggantungkan perasaan senang kita pada banyaknya jumlah like, ataupun pengikut, mulai berhenti membandingkan hidup kita dengan sesuatu yang tidak kita ketahui sepenuhnya dan juga dari kita untuk pengguna yang lain yaitu dengan menyebarkan hal-hal positif dibandingkan hal yang negatif, hal yang lebih membangun dibanding hal yang menjatuhkan.

 Yang saya rasakan setelah berhenti bermain media sosial

Mampu keluar dari sosial media menurut saya adalah sebuah keistimewaan yang tidak semua orang mampu melakukannya karena mungkin karena sudah terlalu kecanduan ataupun karena penghasilannya berasal dari media sosial,

 Awalnya saya mersa seperti lepas koneksi , tapi Setelah tidak bermain media sosial saya tiba pada kesadaran baru bahwa media sosial ada konsekuensinya terhadap kesehatan mental seperti yang sudah saya jelaskan di atas, dan puasa media sosial sangat penting untuk mengetahui apa dampaknya.

Meskipun tidak bermain media sosial sampai hari ini saya masih bisa bertemu sama teman-teman, masi bisa update tentang apa yang terjadi, saya tidak ketinggalan banyak hal dan justru itu membuat saya menjadi diet informasi, saya akhirnya bisa mengatur informasi apa saja yang saya perlukan dan tidak saya perlukan.

Pesan untuk kawan kawan

Untuk kawan-kawan yang addict dengan sosial media harus mencoba untuk hidup tanpa sosmed dalam beberapa waktu, apalagi buat kawan-kawan yang masih muda dan tidak telalu berkepentingan selain eksistensi diri. Percayalah banyak sisi kehidupan yang lebih indah di dunia ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear my little self

  I know, throughout your life, you've rarely asked for anything for yourself. But there's one thing you've always wished for: to working and study abroad , with your own effort, because you had no privilege, nothing handed to you. I know how happy you were when you pass the ielts test . But… I’m sorry i didn’t win the war. i’m sorry i couldn’t push myself harder. Still, this is our biggest achievement, isn't it?  We have ielts certificate , we already have a passport and and the most important thing is that we have tried. It such a dream, we made it so far. So let's try again. And if we fail again... let's laugh, then try, try, and try... until our very last breath.

UNTUK JALAN PANJANG (2026 Dan Setelahnya)

  📍Pantai Bosowa    Ini sudah 2026. Beberapa tahun terakhir, waktu terasa bergerak begitu cepat. Tahun 2030 sekarang lebih dekat dari tahun 2020. And, can you believe that 2016 was a decade ago? Bukan hanya tahun yang bertambah—usia kita pun ikut bertambah. Aku sendiri kini berusia 24 tahun; kurang lebih 11 bulan lagi akan genap seperempat abad. Saat remaja, aku pernah membayangkan diriku di usia 25 tahun: sudah menikah(haha), menjalani rutinitas yang padat, dan hidup jauh dari rumah—seperti yang sering kulihat di televisi. Namun nyatanya, aku masih di sini. Menjadi warga biasa, hidup dengan tempo lambat, dengan mimpi-mimpi yang masih jauh dari kata selesai. Kehidupan yang dulu kubayangkan mungkin memang bukan untukku—atau mungkin belum.      Akhir-akhir ini aku sering bertanya pada diriku sendiri: apakah orang-orang yang kutemui setiap hari menjalani hidup seperti yang benar-benar mereka inginkan sejak dulu? Penjual tahu keliling, petani, guru, pejabat, d...

Merayakan Daya Juang

Tulisan Tahunan Tahun 2025, bagi saya, adalah tentang perjuangan. Mungkin saya tidak perlu menceritakan secara detail apa saja yang saya lakukan sepanjang tahun ini, karena sebagian besar sudah saya tuangkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Tulisan ini akan berfokus pada pelajaran utama yang saya dapatkan selama menjalani 2025—pelajaran yang ingin saya bawa sebagai bekal untuk bertarung di 2026. ⸻ #1 Tekad yang Kuat Tidak Akan Merobohkan Tembok Takdir Setelah lulus kuliah, salah satu mimpi terbesar saya adalah bekerja di luar negeri. Saya mulai belajar IELTS, membuat paspor, dan menyiapkan berbagai persyaratan yang sangat menguras tenaga, waktu, dan materi. Ada banyak hal yang saya korbankan dalam proses itu. Namun, apakah semua pengorbanan tersebut membuahkan hasil di tahun ini? Ternyata tidak. Dengan rasa kalah, saya menarik napas panjang, mengelus dada, lalu pulang dengan renungan yang berat. Di titik ini saya belajar bahwa perjuangan hidup tidak selalu berakhir deng...