Bagaimana
cerita ini bermula
Sekitar satu tahun yang lalu saya menonton video di youtubenya
muhammad Muqtadir (fatur) tentang “apa yang media sosisal lakukan pada kita”,
dalam video tersebut dia mengungakapkan banyak sekali dampak negatif dari
bermain media sosial khususnya bagi kesehatan mental, dan dari situ saya baru
menyadari bahwa saya sudah mengalami/terkena dampak negatif terebut, maka dari
itu dengan penuh kesadaran dan dengan niat untuk berubah menjadi lebih baik
saya mulai mencoba untuk sedikit demi sedikit mengurangi bermain media, cara
pertama yang saya lakukan adalah dengan menutup akun instagram saya meskipun
kadang kala belum sampai 1 bulan saya membuka akun lagi karena kadang ada foto
bagus saya merasa ini harus di pamer hehe,dan baru pada tanggal 6 juli 2022
saya memutuskan untuk menutup akun instagram saya dan akun akun media sosial
lainnya selain WA dan belum saya buka sampai sekarang
apa yang
sosial media lakukan pada kita
Sosial media yang awalnya Cuma alat komunikasi jarak jauh,
kini bertranformasi menjadi sebuah mesin yang akhirnya menjual perhatian kita,
kita awalnya merasa sebagai costumer, kita mendowloadnya sacara garatis, upload
ini itu gratis tapi ternyata kita tidak benar-benar jadi costumernya, karena
mesin itu mempelajari apa yang kita, suka apa yang kita dengarkan , dia
mempelajari apapaun yang kita suaka, kepribadian kita, dengan satu tugas yaitu
membuat kita selama mungkin menatap layar, membuat kita selama mungkin memainkannya. Dan
tentu bukan tugasnya dengan rsiko yang terjadi di dunia nyata.
Sudah saatnya kita mempertanyakan,
Apasih yang sosial media lakukan pada kita, pada keluarga
kita, ke teman kita? Dan ke orang tua
kita?
Kita sudah banyak melihat bahkan mugkin merasakan hilangnya
interaksi di keluarga, lebih mudah cemas dan stress, semakin sulitnya fokus ketika
bekerja dan belajar karena otak kita dipaksa untuk cepat sekali beganti fokus setiap
15 detik dengan fitur story, dan ada riset yang menunjukan bahwa rata-rata kemampuan manusia untuk
bisa fokus atau rentang perhatian kita itu semakin lama semakin menurun, dari
angka 12 detik di tahun 2000 menjadi hanya 8,25 detik di tahun 2015, bahkan
rata2 rentang perhatian ikan itu mas melebihi rata2 rentang perhatian manusia.
Ada juga istilah social currency, dimana kita mulai
menukarkan hidup kita dengan standar2 sosial , kita menukarkannya dengan like,
dengan pengikut, ataupun komen, bahkan banyak sekali fenomena dimana
orang-orang akhirnya merasa malu lalu menyembunyikan bahkan menghapus sesuatu
yang dia unggah yang tidak mendapatkan banyak like dari para pengguna lainnya.
Kemudian ada istilah shadaw of appearance( bayangan
penampilan), jadi sosial media secara langsung menghadirkan kehadapan kita,
tampilan kehidupan dari para pengguna lainnya (tidak keseluruhan hidupnya,
hanya sesuatu yang ingin ditampilkan)
sayanngya kita seringkali membandingkan tampilan itu dengan keadaan kita
yang sebenarnya., yang akhirnya pengalaman kita dalam ber media sosial penuh
dengan ras a insekyur, cemas dan sebagainya
Jadi melihat banyaknya pengaruh negatif dari media sosial,
sudah saatnya kita menyadari beberapa hal, karena dengan sadarlah kita bisa
selangkah lebih maju untuk mengubah pengalaman bermedia sosial kita.
Apa yang seharusnya kita lakukan
Setelah mengetahui banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan
dari media sosial kita hanya memiliki 2 pilihan untuk menjadi lebih baik yaitu
: benar-benar keluar dari sosial media seperti
yang saya lakukan saat ini. ataupun tetap bermsin sosial media dengan mulai
sadar bahwa kita tidak harus ikut standar sosial, tidak harus menggantungkan
perasaan senang kita pada banyaknya jumlah like, ataupun pengikut, mulai
berhenti membandingkan hidup kita dengan sesuatu yang tidak kita ketahui
sepenuhnya dan juga dari kita untuk pengguna yang lain yaitu dengan menyebarkan
hal-hal positif dibandingkan hal yang negatif, hal yang lebih membangun dibanding
hal yang menjatuhkan.
Yang saya rasakan setelah berhenti bermain
media sosial
Mampu keluar dari sosial media menurut saya adalah sebuah
keistimewaan yang tidak semua orang mampu melakukannya karena mungkin karena
sudah terlalu kecanduan ataupun karena penghasilannya berasal dari media
sosial,
Awalnya saya mersa
seperti lepas koneksi , tapi Setelah tidak bermain media sosial saya tiba pada
kesadaran baru bahwa media sosial ada konsekuensinya terhadap kesehatan mental
seperti yang sudah saya jelaskan di atas, dan puasa media sosial sangat penting
untuk mengetahui apa dampaknya.
Meskipun tidak bermain media sosial sampai hari ini saya
masih bisa bertemu sama teman-teman, masi bisa update tentang apa yang terjadi,
saya tidak ketinggalan banyak hal dan justru itu membuat saya menjadi diet
informasi, saya akhirnya bisa mengatur informasi apa saja yang saya perlukan
dan tidak saya perlukan.
Pesan untuk
kawan kawan
Untuk kawan-kawan yang addict dengan sosial media harus
mencoba untuk hidup tanpa sosmed dalam beberapa waktu, apalagi buat kawan-kawan
yang masih muda dan tidak telalu berkepentingan selain eksistensi diri.
Percayalah banyak sisi kehidupan yang lebih indah di dunia ini.

Komentar
Posting Komentar